Selasa, 16 Februari 2010

"Islamic Valentine Day"

"Islamic Valentine Day"

Oleh: Emha Ainun Nadjib

JUDUL ini harus dikasih tanda petik di awal dan akhir, karena sesungguhnya itu istilah ngawur dari sudut apapun kecuali dari sisi iktikad baik tentang cinta kemanusiaan.

Islam bukan kostum drama, sinetron atau tayangan-tayangan teve Ramadan. Islam itu substansi nilai, juga metodologi. Ia bisa memiliki kesamaan atau perjumpaan dengan berbagai macam substansi nilai dan metodologi lain, baik yang berasal dari ”agama” lain, dari ilmu-ilmu sosial modern atau khasanah tradisi. Namun sebagai sebuah keseluruhan entiti, Islam hanya sama dengan Islam.

Bahkan Islam tidak sama dengan tafsir Islam.Tidak sama dengan pandangan pemeluknya yang berbagai-bagai tentang Islam. Islam tidak sama dengan Sunni, Syi’i, Muhammadiyah, NU, Hizbut Tahrir dan apapun saja aplikasi atas tafsir terhadap Islam. Islam yang sebenar-benarnya Islam adalah dan hanyalah Islam yang sejatinya dimaksudkan oleh Allah.

Semua pemeluk Islam berjuang dengan pandangan-pandangan nya masing-masing mendekati sejatinya Islam. Sehingga tidak ada satu kelompok pun yang legal dan logis untuk mengklaim bahwa Islam yang benar adalah Islamnya kelompok ini atau itu.

Kalau ada teman melakukan perjuangan ”islamisasi”, ”dakwah Islam”, ”syiar Islam”, bahkan perintisan pembentukan ”Negara Islam Indonesia” – yang sesungguhnya mereka perjuangkan adalah Islamnya mereka masing-masing.

Dan Islamnya si A si B si C tidak bisa diklaim sebagai sama dengan Islamnya Allah sejatinya Islam. Demikianlah memang hakekat penciptaan Allah atas kehidupan. Sehingga Islam bertamu ke rumahmu tidak untuk memaksamu menerimanya. La ikroha fid-din.Tak ada paksaan dalam Agama, juga tak ada paksaan dalam menafsirkannya. Tafsir populer atas Islam bahkan bisa menggejala sampai ke tingkat pelecehan atas Islam itu sendiri.

Islam bisa hanya disobek-sobek, diambil salah satu sobekannya yang menarik bagi seseorang karena enak dan sesuai dengan seleranya. Islam bisa diperlakukan hanya dengan diambil salah satu unsurnya, demi mengamankan psikologi subyektif seseorang sesudah hidupnya ia penuhi dengan pelanggaran- pelanggaran terhadap Islam.

Islam bisa hanya diambil sebagai ikon untuk meng-kamuflase kekufuran, kemunafikan, kemalasan pengabdian, korupsi atau keculasan. Islam bisa dipakai untuk menipu diri, diambil satu faktor pragmatisnya saja: yang penting saya sudah tampak tidak kafir, sudah merasa diri bergabung dengan training shalat, sudah kelihatan di mata orang lain bahwa saya bagian dari orang yang mencari sorga, berdzikir ingat keserakahan diri dan keserakahan itu bisa dihapus dengan beberapa titik air mata di tengah ribuan jamaah yang berpakaian putih-putih bagaikan pasukan Malaikat Jibril.

Sedemikian rupa sehingga kita selenggarakan dan lakukan berbagai formula dunia modern, industri liberal, mode show, pembuatan film, diskusi pengajian, yang penting dikasih kostum Islam.Tentu saja tidak usah kita teruskan sampai tingkat menyelenggarakan tayangan ”Gosip Islami”, ”Lokalisasi Pelacuran Islami”, ”Peragaan Busana Renang Wanita Muslimah” atau pertandingan volley ball wanita muslimah berkostum mukena putih-putih. Sampai kemudian dengan tolol dan ahistoris kita resmikan salah satu hari ganjil di tengah sepuluh hari terakhir Ramadan sebagai Hari Valentine Islami...

Tapi sesungguhnya saya serius dengan makna Hari Kasih Sayang Islam versi Rasulullah Muhammad SAW. Fathu Makkah, yang diabadikan dalam Al Qur’an sebagai Fathan Mubiiina, kemenangan yang nyata, terjadi pada Bulan Ramadan, tepatnya pada tanggal 10 Ramadan tahun ke-8 Hijriyah. Pasukan Islam dari Madinah merebut kembali kota Makkah. Diizinkan Allah memperoleh kemenangan besar. Ribuan tawanan musuh diberi amnesti massal...

Rasulullah berpidato kepada ribuan tawanan perang: ”...hadza laisa yaumil malhamah, walakinna hadza yaumul marhamah,wa antumut thulaqa....”. Wahai manusia, hari ini bukan hari pembantaian, melainkan hari ini adalah hari kasih sayang, dan kalian semua merdeka kembali ke keluarga kalian masing-masing. Pasukan Islam mendengar pidato itu merasa shock juga. Berjuang hidup mati,diperhinakan dilecehkan sekian lama, ketika kemenangan sudah di genggaman: malah musuh dibebaskan. Itu pun belum cukup. Rasulullah memerintahkan papasan perang, berbagai harta benda dan ribuan onta, dibagikan kepada para tawanan.

Sementara pasukan Islam tidak memperoleh apa-apa. Sehingga mengeluh dan memproteslah sebagian pasukan Islam kepada Rasulullah. Mereka dikumpulkan dan Muhammad SAW bertanya: ”Sudah berapa lama kalian bersahabat denganku?” Mereka menjawab: sekian tahun, sekian tahun... ”Selama kalian bersahabat denganku, apakah menurut hati kalian aku ini mencintai kalian atau tidak mencintai kalian?”

Tentu saja sangat mencintai. Rasulullah mengakhiri pertanyaannya: ”Kalian memilih mendapatkan onta ataukah memilih cintaku kepada kalian?” Menangislah mereka karena cinta Rasulullah kepada mereka tidak bisa dibandingkan bahkan dengan bumi dan langit.

Tentu saja, andai kita berada di situ sebagai bagian dari pasukan Islam, kelihatannya kita menjawab agak berbeda: ”Sudah pasti kami memilih cinta Rasulullah.. . tapi kelau boleh mbok ya juga diberi onta dan emas barang segram dua gram...”(*)


EMHA AINUN NADJIB

Rabu, 03 Februari 2010

lebih bisa mengerti

beberapa saat yang lalu seorang teman menulis keluhnya tentang orang yang hanya melihat luarnya saja tanpa melihat kebenaran dalam hatinya.
Maka saya kemudian mengomentarinya dengan filosofi alun-alun di Jawa. Agar teman-teman tahu, alun-alun di Jawa selalu dikelilingi Masjid, pasar, penjara dan pemerintahan. Maka pertanyaanya adalah dimana hati manusia berada dalam alun-alun tersebut.
Tempat rakyat hidup itu ada di masjid dan di pasar. Pasar adalah tempat orang mencari keuntungan, masjid adalah tempat mengabdi/berserah kepada Allah. Maka ketika seseorang berhati pasar,biarpun dia berada di masjid tak henti dia berusaha mencari keuntungan. Ketika seseorang berhati masjid, walaupun dia di pasar untuk berdagang niatnya tetap untuk mengabdi kepada Allah-nya.

Tapi dalam perkembangan sekarang, ternyata penafsiran alun-alun tidak bisa berhenti sampai disitu.
Contohnya yang sedang populer adalah fakta bahwa saat ini pasar bebas menjadi dasar ilmu bagi para pemikir2 ekonomi. Maka ketika saya berandai2 dengan membayangkan Budiono/Sri Mulyani adalah seseorang yang berhati masjid, namun karena inputnya adalah ekonomi pasar bebas maka segala keputusannya selalu dengan prinsip pasar bebas. - Saya tidak bermaksud mengatakan pasar bebas adalah sesuatu yang buruk, karena jika yang bekerja dalam sistem pasar bebas adalah orang berhati masjid, maka itu tak akan menjadi masalah. walau sayangnya sekarang lebih banyak orang yang berhati pasar -

Pointnya yang ingin saya kemukakan adalah sebaik-baiknya hati seseorang, outputnya adalah input pengetahuan yang dimilikinya.

Hal ini membuat saya sedikit lebih bisa mengerti terhadap tindakan seseorang yang saya yakin dia baik, namun tidak mampu bertindak dengan baik. Bahkan sampai tak tahu bahwa dia tidak baik, dan menganggap orang lain yang tidak baik. :)

Namun sebagai manusia yang berpikir, sebuah pertanyaan yang terjawab, pastinya akan menimbulkan pertanyaan baru.

Pertanyaannya adalah sudah baikkah input yang kita miliki dan membuat kita bisa membuat keputusan2/output yang baik?
Bagaimana kita tahu input yang "baik" dan "tidak baik?"
Bagaimana dengan input yang diterima para pelajar di sekolah?
atau Anak2 dirumah?

Dan kemudian semakin sadar betapa kecilnya saya..
yah.. jika ada salah, segalanya datang dari saya. jika benar, itu semua dari Allah..