Jumat, 29 Januari 2016

Senin, 13 April 2015

Rabu, 20 Agustus 2014

Jumat, 14 Maret 2014

Senin, 01 April 2013

Sabtu, 01 Desember 2012

Kamis, 29 November 2012

Selasa, 27 November 2012

Kamis, 16 Februari 2012

Berita Kehilangan

Berita Kehilangan Saya berharap kepada teman, sahabat, guru saya, untuk menyebarkan BC, semoga sampe ke orang yang "mengambil" atau "membeli" sebuah laptop yang kemarin malam hilang (14-02-2012, perjalanan Jakarta-Rembang di bis Nusantara NS-19). Ciri-ciri Laptopnya: - Merk: TOSHIBA - Size Monitor 17 inch - Skin Silver - Ada stiker di skin bertuliskan "Indonesian Idiot" jika belum dilepas) Melihat situasinya diambil dengan niat terencana/terorganisir dari tas saya dan digantikan dengan 3majalah tebal yg sudah dilakban, sehingga beratnya sama persis dgn laptop. Saya berharap data2 di dalamnya selamat. di bawah ini daftar data2 di dalamnya sebagai ciri2 dari laptop yang dimaksud, yaitu terkait dengan file2/folder berikut: Drive E (Data) berisi: 1. QURANIC EXPLORER 2. JAWSYAN KABIR 3. CNKK 4. KSU BERKAH 5. MY DATA 6. Dll. Dan masih banyak lagi karya, hasil kerja, koleksi tahunan yang sangat penting dan berharga bagi saya. Yang bertepatan menemukan atau membeli Laptop tersebut, saya berharap mengambil datanya saja, tentu dengan "tambahan" tertentu. Salam Menunggu: YUDI ROHMAD yudirohmad@yahoo.co.id myr73137@yahoo.co.id www.facebook.com/yudi.rohmad HP: 085234781577 Pin BB: 316E9F2E Alamat rumah: Jl. Mujur No. 11-A Sidowayah Rembang, Prop. Jawa Tengah (59218)

Senin, 13 Februari 2012

Pagelaran Teater "Nabi Darurat. Rasul Ad-Hoc"




SINOPSIS
Pagelaran Teater
"Nabi Darurat. Rasul Ad-Hoc"
___________
Sebuah keluarga kecil yang tidak menonjol di pelosok sebuah desa pinggiran kota, yang hanya terdiri dari hanya Ruwat Sengkolo, duda hampir paruh baya, dengan kakeknya, Mbah Soimun, tiba-tiba menjadi perhatian masyarakat luas dan menjadi sumber pergunjingan serta keributan.
Keributan itu membuat Pak Jangkep, bapaknya Ruwat, yang merantau bekerja di Jakarta, mendadak pulang. Ki Janggan, gurunya Ruwat, entah dalam dalam urusan perguruan apa dan bagaimana, terpaksa nongol juga. Juga muncul Alex Sarpin, aktivis dan mahasiswa, yang menjumpai ada keanehan tertentu di rumah Ruwat.
Sebenarnya lakon ini hanya mengisahkan beberapa jam siang hari situasi di belakang rumah Ruwat, namun dalam siang itu terdapat malam hari yang remang, bahkan gelap, dan misterius. Hadir Brah Abadon yang tidak menentu sosoknya, yang kabarnya ada kaitannya dengan Malaikat Isrofil, atau entah makhluk apa lainnya yang bukan manusia.
Sejumlah anak muda yang kost di sebelah rumah Ruwat, yang juga para pemain musik, jadi terlibat. Karena keributan masyarakat umum menuding Ruwat dengan bermacam-macam spekulasi: Ruwat gila, mau bunuh diri, Dukun Tiban, bertapa karena cari pesugihan, bahkan beredar juga isyu bahwa Ruwat akan tampil di Pilkades.
Keributan memuncak ketika petugas kepolisian datang untuk menangkap Ruwat karena dituduh meresahkan masyarakat serta melanggar undang-undang. Sejumlah kelompok masyarakat mendukung tindakan aparat keamanan Pemerintah karena menurut mereka Ruwat mengaku Nabi dan Rasul.
Pak Lurah Sangkan turun tangan. Pak Jangkep marah karena membela martabat anaknya. Alex coba melakukan persepsi, analisis dan penyikapan terhadap penangkapan itu. Ki Janggan pasang badan. Brah Abadon melintas-lintas dengan suara langitnya. Mbah Soimun terombang-ambing antara bingung dan geli karena perkembangan fikiran manusia dan zaman yang semakin tak bisa diikutinya.
Ruwat sendiri secara kasat mata berlaku aneh dan agak gila. Tetapi secara muatan sesungguhnya tampak upayanya untuk bersikap terhadap keadaan-keadaan masyarakat dan Negaranya, yang menurut dia sudah terlalu busuk, bobrok dan hancur. Sehingga tidak mungkin diatasi oleh ilmu, perangkat hukum, revolusi sosial atau apapun.
Ruwat sangat meyakini tahun 2012, yang dipercaya banyak orang sebagai Tahun. Kiamat, sebenarnya adalah awal dari tindakan Tuhan kepada Indonesia, yang tingkat dan komplikasi problemnya bisa diatasi dengan kepemimpinan yang setingkat, sepadat dan sekuat Nabi atau Rasul.

ngungak

ngungak blog..
sudah lama gak ngungak blog
sayang kalo sesuatu yang dimiliki gak di ungak..

ngungak ki opo to?

ngungak dari kata ungak

ungak kalau dari gerakan fisik artinya memanjangkan leher untuk bisa melihat sesuatu
ungak itu melihat sesuatu yang mungkin tanggung jawab kita atau kita merasa bertanggungjawab, atau sesuatu yang kita butuhkan.

ngungak tokone wes buka durung=ngecek tokonya sudah buka atau belum
ngungak banyune wes amber opo durung=liat bak atau ember yang sedang diisi air sudah penuh atau belum
ungak-ungak regane tivi=survey harga tivi di pasar

opo maneh yo..
mengko lanjut..

Sabtu, 28 Agustus 2010

Jumat, 06 Agustus 2010

Minggu, 27 Juni 2010

Ninggalkan jualan

Masih jadi kebiasaan yang dianggap biasa bagi orang biasa.

Dengan santainya meninggalkan dagangannya sendirian di tengah keramaian tanpa mikirkan calon pelanggan.

kira2 apa ya yang ada dipikiran mereka? Mungkin:

- "gak ada yg beli tinggal aja deh"

- "kalau ada pelanggan pasti orangnya manggil2"

- "tinggal aja deh, gak bakal ilang nih dagangan"

- "kalau rejeki gak bakal pergi"

- "biarin ah, bukan punyaku"

- "aku tadi kentut, jadi jangan dekat sama pelanggan, takutnya mereka gak tahan bau.."

- "perlu cari ide biar lapakq rame, cari ide yg pas ya sambil beol"

- "promo lewat jejaring sosial, beli pulsa dulu ah"

- "ini teknik dagang unik, caranya bikin orang kebingungan. Biar dia ingat terus Lapakq"

- "survey ah, jangan2 ada pesaing merusak harga"

Wah gak habis kalo ditulis..

Seperti seharusnya Aku gak akan ngasi kesimpulan, yg pasti dagangannya lumayan kok.

Pesan untuk yang jaga, boleh mikir macem2 asal ingat niat awal berdagang yaitu sama2 menguntungkan. Pembeli memang bukan raja, tapi alangkah berkahnya hidup kita jika bisa membuat mereka gembira.. :)
Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT

Selasa, 15 Juni 2010

Selasa, 16 Februari 2010

"Islamic Valentine Day"

"Islamic Valentine Day"

Oleh: Emha Ainun Nadjib

JUDUL ini harus dikasih tanda petik di awal dan akhir, karena sesungguhnya itu istilah ngawur dari sudut apapun kecuali dari sisi iktikad baik tentang cinta kemanusiaan.

Islam bukan kostum drama, sinetron atau tayangan-tayangan teve Ramadan. Islam itu substansi nilai, juga metodologi. Ia bisa memiliki kesamaan atau perjumpaan dengan berbagai macam substansi nilai dan metodologi lain, baik yang berasal dari ”agama” lain, dari ilmu-ilmu sosial modern atau khasanah tradisi. Namun sebagai sebuah keseluruhan entiti, Islam hanya sama dengan Islam.

Bahkan Islam tidak sama dengan tafsir Islam.Tidak sama dengan pandangan pemeluknya yang berbagai-bagai tentang Islam. Islam tidak sama dengan Sunni, Syi’i, Muhammadiyah, NU, Hizbut Tahrir dan apapun saja aplikasi atas tafsir terhadap Islam. Islam yang sebenar-benarnya Islam adalah dan hanyalah Islam yang sejatinya dimaksudkan oleh Allah.

Semua pemeluk Islam berjuang dengan pandangan-pandangan nya masing-masing mendekati sejatinya Islam. Sehingga tidak ada satu kelompok pun yang legal dan logis untuk mengklaim bahwa Islam yang benar adalah Islamnya kelompok ini atau itu.

Kalau ada teman melakukan perjuangan ”islamisasi”, ”dakwah Islam”, ”syiar Islam”, bahkan perintisan pembentukan ”Negara Islam Indonesia” – yang sesungguhnya mereka perjuangkan adalah Islamnya mereka masing-masing.

Dan Islamnya si A si B si C tidak bisa diklaim sebagai sama dengan Islamnya Allah sejatinya Islam. Demikianlah memang hakekat penciptaan Allah atas kehidupan. Sehingga Islam bertamu ke rumahmu tidak untuk memaksamu menerimanya. La ikroha fid-din.Tak ada paksaan dalam Agama, juga tak ada paksaan dalam menafsirkannya. Tafsir populer atas Islam bahkan bisa menggejala sampai ke tingkat pelecehan atas Islam itu sendiri.

Islam bisa hanya disobek-sobek, diambil salah satu sobekannya yang menarik bagi seseorang karena enak dan sesuai dengan seleranya. Islam bisa diperlakukan hanya dengan diambil salah satu unsurnya, demi mengamankan psikologi subyektif seseorang sesudah hidupnya ia penuhi dengan pelanggaran- pelanggaran terhadap Islam.

Islam bisa hanya diambil sebagai ikon untuk meng-kamuflase kekufuran, kemunafikan, kemalasan pengabdian, korupsi atau keculasan. Islam bisa dipakai untuk menipu diri, diambil satu faktor pragmatisnya saja: yang penting saya sudah tampak tidak kafir, sudah merasa diri bergabung dengan training shalat, sudah kelihatan di mata orang lain bahwa saya bagian dari orang yang mencari sorga, berdzikir ingat keserakahan diri dan keserakahan itu bisa dihapus dengan beberapa titik air mata di tengah ribuan jamaah yang berpakaian putih-putih bagaikan pasukan Malaikat Jibril.

Sedemikian rupa sehingga kita selenggarakan dan lakukan berbagai formula dunia modern, industri liberal, mode show, pembuatan film, diskusi pengajian, yang penting dikasih kostum Islam.Tentu saja tidak usah kita teruskan sampai tingkat menyelenggarakan tayangan ”Gosip Islami”, ”Lokalisasi Pelacuran Islami”, ”Peragaan Busana Renang Wanita Muslimah” atau pertandingan volley ball wanita muslimah berkostum mukena putih-putih. Sampai kemudian dengan tolol dan ahistoris kita resmikan salah satu hari ganjil di tengah sepuluh hari terakhir Ramadan sebagai Hari Valentine Islami...

Tapi sesungguhnya saya serius dengan makna Hari Kasih Sayang Islam versi Rasulullah Muhammad SAW. Fathu Makkah, yang diabadikan dalam Al Qur’an sebagai Fathan Mubiiina, kemenangan yang nyata, terjadi pada Bulan Ramadan, tepatnya pada tanggal 10 Ramadan tahun ke-8 Hijriyah. Pasukan Islam dari Madinah merebut kembali kota Makkah. Diizinkan Allah memperoleh kemenangan besar. Ribuan tawanan musuh diberi amnesti massal...

Rasulullah berpidato kepada ribuan tawanan perang: ”...hadza laisa yaumil malhamah, walakinna hadza yaumul marhamah,wa antumut thulaqa....”. Wahai manusia, hari ini bukan hari pembantaian, melainkan hari ini adalah hari kasih sayang, dan kalian semua merdeka kembali ke keluarga kalian masing-masing. Pasukan Islam mendengar pidato itu merasa shock juga. Berjuang hidup mati,diperhinakan dilecehkan sekian lama, ketika kemenangan sudah di genggaman: malah musuh dibebaskan. Itu pun belum cukup. Rasulullah memerintahkan papasan perang, berbagai harta benda dan ribuan onta, dibagikan kepada para tawanan.

Sementara pasukan Islam tidak memperoleh apa-apa. Sehingga mengeluh dan memproteslah sebagian pasukan Islam kepada Rasulullah. Mereka dikumpulkan dan Muhammad SAW bertanya: ”Sudah berapa lama kalian bersahabat denganku?” Mereka menjawab: sekian tahun, sekian tahun... ”Selama kalian bersahabat denganku, apakah menurut hati kalian aku ini mencintai kalian atau tidak mencintai kalian?”

Tentu saja sangat mencintai. Rasulullah mengakhiri pertanyaannya: ”Kalian memilih mendapatkan onta ataukah memilih cintaku kepada kalian?” Menangislah mereka karena cinta Rasulullah kepada mereka tidak bisa dibandingkan bahkan dengan bumi dan langit.

Tentu saja, andai kita berada di situ sebagai bagian dari pasukan Islam, kelihatannya kita menjawab agak berbeda: ”Sudah pasti kami memilih cinta Rasulullah.. . tapi kelau boleh mbok ya juga diberi onta dan emas barang segram dua gram...”(*)


EMHA AINUN NADJIB

Rabu, 03 Februari 2010

lebih bisa mengerti

beberapa saat yang lalu seorang teman menulis keluhnya tentang orang yang hanya melihat luarnya saja tanpa melihat kebenaran dalam hatinya.
Maka saya kemudian mengomentarinya dengan filosofi alun-alun di Jawa. Agar teman-teman tahu, alun-alun di Jawa selalu dikelilingi Masjid, pasar, penjara dan pemerintahan. Maka pertanyaanya adalah dimana hati manusia berada dalam alun-alun tersebut.
Tempat rakyat hidup itu ada di masjid dan di pasar. Pasar adalah tempat orang mencari keuntungan, masjid adalah tempat mengabdi/berserah kepada Allah. Maka ketika seseorang berhati pasar,biarpun dia berada di masjid tak henti dia berusaha mencari keuntungan. Ketika seseorang berhati masjid, walaupun dia di pasar untuk berdagang niatnya tetap untuk mengabdi kepada Allah-nya.

Tapi dalam perkembangan sekarang, ternyata penafsiran alun-alun tidak bisa berhenti sampai disitu.
Contohnya yang sedang populer adalah fakta bahwa saat ini pasar bebas menjadi dasar ilmu bagi para pemikir2 ekonomi. Maka ketika saya berandai2 dengan membayangkan Budiono/Sri Mulyani adalah seseorang yang berhati masjid, namun karena inputnya adalah ekonomi pasar bebas maka segala keputusannya selalu dengan prinsip pasar bebas. - Saya tidak bermaksud mengatakan pasar bebas adalah sesuatu yang buruk, karena jika yang bekerja dalam sistem pasar bebas adalah orang berhati masjid, maka itu tak akan menjadi masalah. walau sayangnya sekarang lebih banyak orang yang berhati pasar -

Pointnya yang ingin saya kemukakan adalah sebaik-baiknya hati seseorang, outputnya adalah input pengetahuan yang dimilikinya.

Hal ini membuat saya sedikit lebih bisa mengerti terhadap tindakan seseorang yang saya yakin dia baik, namun tidak mampu bertindak dengan baik. Bahkan sampai tak tahu bahwa dia tidak baik, dan menganggap orang lain yang tidak baik. :)

Namun sebagai manusia yang berpikir, sebuah pertanyaan yang terjawab, pastinya akan menimbulkan pertanyaan baru.

Pertanyaannya adalah sudah baikkah input yang kita miliki dan membuat kita bisa membuat keputusan2/output yang baik?
Bagaimana kita tahu input yang "baik" dan "tidak baik?"
Bagaimana dengan input yang diterima para pelajar di sekolah?
atau Anak2 dirumah?

Dan kemudian semakin sadar betapa kecilnya saya..
yah.. jika ada salah, segalanya datang dari saya. jika benar, itu semua dari Allah..

Senin, 05 Oktober 2009

In Memoriam Rendra: Tanahku, Hutanku, Kuburanku

In Memoriam Rendra: Tanahku, Hutanku, Kuburanku

Posted by Emha Ainun Nadjib, 18 August 2009 in www.padhangmbulan.com
RENCANANYA, sesudah diskusi ulang tahun ke-52 Lembaga Administrasi Nasional, 4 Agustus pagi itu, saya janji langsung ke Rumah Sakit Mitra Keluarga untuk turut mengantarkan Rendra pulang ke rumah Clara Shinta, putrinya, di Pesona Khayangan, Depok. Namun, tiba-tiba Mbah Surip dipanggil Tuhan sehingga seusai diskusi, saya dengan beberapa teman Kenduri Cinta langsung menuju rumah Mamiek Slamet [Prakoso] di Kampung Makassar, tempat pertama jenazah beliau disemayamkan.
Memasuki kampung padat gang sempit penuh orang dan wartawan, tiba juga kami di depan rumah Mamiek. Pintu ditutup rapat. Manohara barusan masuk. Kami tidak punya “kompetensi” untuk berjuang agar bisa dibukakan pintu sebab kami tidak tahu posisi kami dalam dunia Mbah Surip: apakah kami termasuk di lingkaran primer sahabatnya, atau lingkungan sekunder, ataukah fans belaka sebagai ratusan khalayak yang memadati tempat itu.
Bersama Dr Nursamad Kamba, aktivis Thariqat Naqshabandy Mesir, kami mengaji dan berdoa di sebuah pojok, kemudian berniat langsung saja ke Cipayung, tempat Mbah Surip akan disemayamkan. Jalan kami terdesak-desak oleh arus massa yang berlomba mengerumuni dan menciumi tangan Manohara, tetapi syukur bisa lolos juga dan langsung menuju kompleks Bengkel Teater Rendra di Cipayung.
Sesampai di sana kami terbentur problem “kompetensi etis” lagi sehingga hanya berkumpul di sebuah rumah tetangga Rendra untuk berdoa dan shalat gaib bersama. Kami menyepakati agar Noe “Letto” dan satu dua teman yang masuk ke tempat jenazah Mbah Surip disemayamkan.
Pukul 20.00, kami cabut menuju Pesona Khayangan AV-5 untuk menemani Rendra yang terbaring sakit. Problem jantung dan ginjal beliau semakin mereda sesudah berpindah tiga rumah sakit, tetapi lalu tiba-tiba terserang demam berdarah sehingga rencana untuk keluar dari RS Mitra tertunda menunggu trombositnya naik. Syukur beliau akhirnya diizinkan pulang dan mulai ditangani oleh sebuah klinik herbal di Jakarta Barat.

“Menonton” Mbah Surip

Rendra telentang, rambutnya dipotong pendek sejak seminggu sebelumnya, tubuhnya masih kuyu, tetapi wajahnya mulai bersinar.
“Hatinya lebih tenteram di sini, Mas?” saya menyapa sambil memegangi tangannya. Rendra tersenyum, menganggukkan kepala, dan memancarkan sorot mata optimisme. Rendra bukan orang yang pernah suka menyembunyikan isi hatinya sehingga kalau hatinya tidak benar-benar lebih tenteram, ia pasti menjawab dengan keras dan tegas, “Ora!”
Kami berbisik-bisik mengobrol pendek-pendek, tentang kelegaannya ditangani dengan metode yang lebih natural, tetapi menyepakati kesiapan seluruh segi untuk sewaktu-waktu berpindah ke rumah sakit di Singapura, yang memang sudah kami runding sejak dua minggu sebelumnya.
Ken Zuraida, istri beliau, dan Meme, putri mereka, lalu lalang menyiapkan ini itu yang diperlukan. Auk alias Clara Sinta, putri Rendra dari istri pertamanya, Sunarti, tak pernah diperbolehkan papanya lepas beberapa meter saja pun darinya, siang dan malam. Juga Arifin, semacam asisten pribadi Rendra yang senantiasa siap ceplas-ceplos bergurau menyegarkan jiwa Rendra, tidak pernah bisa beranjak dari seputar Rendra. Jika beranjak akan terdengar suara berat memanggil-manggilnya, “Fiiin! Fiiin!”
Namun, malam itu Rachell, putri Rendra dari Sitoresmi, sedang pamit ke Yogyakarta sehingga tak terdengar gurauan liberal yang segar antara bapak dan putrinya.
Suasana di pembaringan Rendra kemudian bahkan agak berubah sendu. Di seberang pandang Rendra, televisi sedang menayangkan siaran langsung prosesi pemakaman Mbah Surip.
Ribuan orang dan ratusan wartawan memenuhi “rumah Rendra”. Rendra menatap televisi dengan ekspresi wajah yang tidak segera bisa saya raba. Apakah mereka tahu di mana gerangan tuan rumahnya Mbah Surip berada? Kenapa Rendra tak tampak turut takziah kepada tamunya? Apakah ada yang tahu bahwa si tuan rumah sedang terbaring sakit sejak dua bulan sebelum Mbah Surip meninggalkannya?

Anatomi Nilai

Tatkala terbaring di rumah sakit, Rendra pernah berbisik, “Kapan saya pulang, Nun?” Saya agak mengelak, “Kalau pulang, ke mana, Mas?” Ia menjawab, “Ke Cipayung. Itu tanahku, itu hutanku, itu kuburanku….”
Lalu, tatkala diperkenankan pulang, ia mengambil keputusan, akan pulang ke rumah putrinya, A’u. Saya memahaminya sebagai ungkapan kearifan dan kemuliaan hatinya untuk berbagi kegembiraan dan keadilan bagi siapa saja di dalam lingkup keluarganya. Ternyata kemuliaan hati Rendra itu dituntun Tuhan. Sesudah dua hari berbaring di rumah putrinya, ia rebah di “tanahku, hutanku, kuburanku”.
Tiba-tiba, tatkala bersama Komunitas Padangbulan saya berbincang di bawah cahaya bulan purnama di Jombang, 6 Agustus pukul 22.05, di panggung saya memperoleh telepon bahwa Rendra telah dijemput oleh Malaikat Izroil karena lamaran cintanya diterima Allah SWT. Beberapa jam sebelumnya, tatkala maghrib, ia memanggil A’u dan Arifin, bertanya, “Kalau aku mati, kamu ikut siapa?” Tentu saja mereka berdua menjawab, “Papa tidak boleh omong seperti itu.”
Hati saya mungkin kotor karena spontan yang muncul di benak saya sesudah mendengar kepergian Rendra adalah “apakah akan ada siaran langsung juga sebagaimana Mbah Surip?”
Saya mencoba memaafkan diri sendiri dengan meyakini bahwa pertanyaan itu muncul tidak dari konteks eksistensialisme dan kemasyhuran, melainkan ujian berpikir bagi diri saya sendiri, dan syukur bagi seluruh bangsa Indonesia, khususnya bagi dunia jurnalisme negeri ini. Apakah tidak sebaiknya kita mempertanyakan kembali parameter-parameter nilai kehidupan yang berlaku.
Bagaimana sebenarnya kita menggambar “anatomi nilai” kebudayaan kita? Yang mana dan siapa “kepala”, yang mana dan siapa ” tangan”, “kaki”, “otak”, “nurani”, dan “kelamin”?
Jangan dulu bertanya tentang kaliber karya dan kepribadian Rendra. Kita benahi dulu: yang primer itu akal ataukah nurani, ataukah kelamin? Yang utama bagi informasi dan komunikasi kebudayaan kita ini prestasi akal, pencapaian estetika dan nurani, atau euforia nafsu dangkal kelamin — baik yang diekspresikan dan diperjualbelikan secara eksplisit kelamin maupun yang implisit dan tak kentara bahwa sesungguhnya “rating tertinggi” yang kita imani adalah “packaging” kedangkalan, kekonyolan, kehinaan, dan kerendahan?
Wallahua’lam. Saya berdebar dari detik ke detik. Di tangan saya tergenggam lembar kertas yang bertuliskan puisi terakhir Rendra yang ia tulis pada 31 Juli 2009 di RS Mitra Keluarga….[]
Dimuat di Harian Kompas, Sabtu, 8 Agustus 2009